3 kesalahan cara belajar orang indonesia

Begitu banyak orang yang ingin belajar tapi ia tidak mendapatkan suatu hal yang memuaskan bahkan mendapatkan kesesatan. Dibawah ini adalah 3 hal yang menyebab kita masih bodoh; 

1) Memilih guru, banyak orang indonesia memilih guru asal jadi tidak mengkategorikan itu guru ahli atau guru berjenjang. Guru berjenjang hanya memiliki pengetahuan sesuai jenjangnya. Jika ingin ahli dalam suatu bidang belajarlah kepada guru yang ahli akan bidang tersebut agar tidak terjebak dalam lingkaran analisa salah arti bahkan sesat. Guru ahli biasanya menguasai bidang tertentu dan hal-hal yang berkaitan seperti ahli bidang agama islam iya harus paham gramatika arab, sastra arab, ushulul fiqih, qo'idah fiqih,  ijma' ulama, ayat muhakamah, hadist muhakamah, asbabul nuzul dan mushthalahatul hadist. Seandainya kalian tidak ahli dalam bidang itu tetapi kalian sudah mendapatkan kebeneran dengan analisa yang benar.

2. Mempelajari seluruh fan di waktu yang sama dalam bentuk penguasaan (pemahaman) bukan pengenalan. Akhirnya banyak penggabungan fan-fan yang tidak berkaitan.  bahkan dikait-kaitkan secara paksa. Perilaku ini akan membuat bingung si pelajar dalam menganalisa teori dasar di fan tertentu (apakah ini teori fisika atau kimia?). Kebingungan si pelajar adalah satu tanda besar gagal transformasi ilmu. Jika hal itu terjadi, maka gagal sistem pengajar, pembelajaran, atau pendidikan. 

Jika ada yang bertanya "kenapa itu terjadi?", jawabanya sangatlah mudah pernahkah kita melihat anak manusia belajar tengkurab, belajar berangkang, dan belajar berjalan dalam satu waktu yang sama. Jika digabungkan di waktu yang bersamaan, si balita bisa apa? Berjalankah? Tengkurabkah? Atau tidak bisa sama sekali. Moga itu tidak terjadi dalam pembelajaran terpadu yang di tuangkan oleh regulasi kurikulum 2013.

3. Memilih buku panduan atau buku teks belajar. Pemilihan buku pelajaran sering salah akibat pola pikir yang salah mengartikan sebuah penyataan "bahwa ilmu pengetahuan itu pragmatis",  orang indonesia mentafsirkan : ilmu itu berkembang sesuai dengan zamannya. Sedangkan orang luar memberikan tafsiran yang berbeda yakni bahwa ilmu pengetahuan itu bisa dikembangkan. 

Apa bedanya tafsiran "pragmatis" di alam bawah sadar manusia?. Inilah bukti logika publik dalam belajar dari tekstual di dua dunia berbeda ; maju dan berkembang. Dalam hal pemilihan buku bagi orang indonesia adalah cetakan dan terbitan baru punya, isinya juga pasti kontemporer (kata orang indonesia baru dan masih berlaku). Sedangkan warga negara maju memilih buku terbitan lama dan dicetak baru isinya pasti jadul (kata orang indonesia, ketinggalan zaman atau sudah tidak berlaku lagi).  

Pernahkah terbesit pertanyaan besar di hati "apakah ilmu ada masa kadarluarsanya?"  atau "apakah ada teori dasar hasil 2 dari 1 tambah 1 yang berubah dari masa lalu hingga masa kini?".  Teori dasar berpikir ilmu pengetahuan umum itu sebenarnya sama : mengamati, memahami dan menanggapi.  Semua sudah pasti mengerti 3 teori dasar ini. Penulis tidak perlu mendikte pembaca suatu yang telah ia ketahui karena itu hanya membuang waktu dan tenaga. Kembali lagi ke masalah "kenapa warga negara maju lebih memilih buku jadul daripada buku kontemporer?"  ini faktor prinsip dan motivasi mereka yang ingin menciptakan teori baru tidak mau menjadi pendengar setia teori baru. Efek prinsip inilah warga negara maju seperti jerman sering menjadi penemu teori baru atau teknologi baru bukan seperti prof. universitas di indonesia yang terbatas pada menanggapi tanpa mengembangkan di alam nyata. Jika kata "menanggapi" diartikan secara harfiah yaitu memberikan catatan kaki, makanya hasil lulusan pendidikan indonesia adalah komentator. Jika kata "menanggapi" diartikan secar istilah; mengembangkan analisa/metode/teori dari pemahaman yang mendalam dan hasil pengamat yang cermat, maka hasil kelulusannya pasti ingin meneliti dan menelaah teknologi modern.

Bersikaplah objektif dalam mengamati perubahan sosio-kultural di negeri yang rapuh ini. Pelajar di sekolah formal bukanlah kelinci percobaan sebuah program ambisius tanpa analisis objektif. Dan bisakah kita menerima teori pengetahuan tanpa diuji coba terlebih dahulu. 


Tidak ada komentar: