Tidak boleh Kurban untuk mayit tanpa wasiat-nya versi Kitab Fathul Wahab Syarah Kitab Minhaj

                

            Penulis mencoba memuat semua dualime pendapat antara boleh dan tidak boleh kurban untuk orang yang telah wafat. walaupun semuanya sepakat bahwa kurban untuk mayit dengan adanya wasiat boleh. Permasalahan muncul ketika si mayit tidak memberikan mandat wasiat untuk berkurban, pendapat pertama menyatakan tidaklah sah karena orang yang telah wafat sudah terputus amalnya kecuali sedekah, wakaf, ilmu bermanfaat dan anak yang soleh serta mendoakannya. Sedangkan pendapat kedua memperbolehkan dengan argumentasi bahwa berkurban adalah bagian dari sedekah. Padahal para alim ulama bersepakat bahwa pahala sedekah tetap bermanfaat kepada orang yang telah tiada. Daging kurban unuk mayit wajib disedekahkan seluruhnya kepada fakir miskin. Si orang menyerahkan hewan kurban untuk mayit dan tukang sembelih diharamkan memakannya seperti kurban nazar. Lihat keterangan dan sumber di bawah ini :   

               Kurban untuk mayit (orang yang sudah meninggal) menurut kitab fathul wahab  halaman 233 jilid 2;  

" وَلَا تَضْحِيَةَ لِأَحَدٍ عَنْ آخَرَ بِغَيْرِ إذْنِهِ وَلَوْ " كَانَ " مَيِّتًا " كَسَائِرِ الْعِبَادَاتِ بِخِلَافِ مَا إذَا أذن له كالزكاة 
وَصُورَتُهُ فِي الْمَيِّتِ أَنْ يُوصِيَ بِهَا

artinya ; tiada sah korban seseorang untuk lainnya tanpa izinnya walaupun sudah wafat sebagaimana ibadah-ibadah lainnya berbeda kesimpulan jika mendapatan izin (persetujuan) baginya seperti persoalan zakat. dan gambarannya dalam mayyit adanya wasiat  (mayit) untuk melaksanakannya (zakat).

        Ada dualisme pendapat dalam kitab Asna Mathalib Syarah Raudhat Thalib halaman 60 jilid 3 ;

(فَرْعٌ: لِلْوَرَثَةِ أَوْ الْأَجْنَبِيِّ إسْقَاطُ فَرْضِ الْحَجِّ عَنْ الْمَيِّتِ مِنْ غَيْرِ التَّرِكَةِ وَإِنْ لَمْ يُوصِ)
 بِذَلِكَ أَوْ لَمْ يَأْذَنِ الْوَارِثُ لِلْأَجْنَبِيِّ فِيهِ كَقَضَاءِ دَيْنِهِ وَتَقَدَّمَ الْفَرْقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ نَظِيرِهِ فِي الصَّوْمِ فِي بَابِهِ (وَلَوْ حَجَّ عَنْهُ) الْوَارِثُ أَوْ الْأَجْنَبِيُّ (تَطَوُّعًا بِلَا وَصِيَّةٍ لَمْ يَصِحُّ) لِعَدَمِ وُجُوبِهِ عَلَى الْمَيِّتِ
(وَأَدَاءُ الزَّكَاةِ عَنْهُ وَالدَّيْنُ كَالْحَجِّ)
 الْوَاجِب فِي ذَلِكَ (وَأَمَّا الْكَفَّارَةُ فَسَنَذْكُرُهَا فِي الْأَيْمَانِ إنْ شَاءَ اللَّهِ تَعَالَى

artinya : keterangan : Bagi alhi waris dan orang lain menggugurkan kewajiban haji untuk mayit dari selain harta warisan dan tanpa wasiat mayit begitu, dan tanpa izin ahli warisnya kepada orang lain seperti membayarkan hutang. dan telah dijelaskan pebedaan antara ahli waris dan Nazhir (orang yang dipasrahi) tentang puasa dan babnya. 

seandainya ahli waris atau orang lain berhaji sunah untuk mayit tanpa ada wasiat, maka  tidaklah sah (tidak ada kewajiban bagi mayit).

menunaikan zakat (mayit) dan hutang seperti haji wajib dalam masalah itu. sedangkan masalah kafaroh akan kami jelaskan di bab sumpah insya Allah. 

dalam kitab Asna Mathalib Syarah Raudhat Thalib halaman 60 jilid 3 ;

 فُرِّعَ الدُّعَاءُ) لِلْمَيِّتِ مِنْ وَارِثٍ وَأَجْنَبِيٍّ (يَنْفَعُ الْمَيِّتَ وَكَذَا) يَنْفَعُهُ (الْوَقْفُ وَالصَّدَقَةُ عَنْهُ وَبِنَاءُ الْمَسَاجِدِ وَحَفْرُ الْآبَارِ) وَنَحْوِهَا (عَنْهُ كَمَا يَنْفَعُهُ مَا فَعَلَهُ مِنْ ذَلِكَ فِي حَيَاتِهِ) وَلِلْإِجْمَاعِ وَالْأَخْبَارِ الصَّحِيحَةِ فِي بَعْضِهَا كَخَبَرِ «إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ. صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ» وَخَبَرُ «سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إنَّ أُمِّي مَاتَتْ أَفَتَصَدَّقُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ. قَالَ: سَقْيُ الْمَاءِ» رَوَاهُمَا مُسْلِمٌ وَغَيْرُهُ. وَقَالَ تَعَالَى {وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ} [الحشر: 10] أَثْنَى عَلَيْهِمْ بِالدُّعَاءِ لِلسَّابِقِينَ. وَأَمَّا قَوْله تَعَالَى {وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلا مَا سَعَى} [النجم: 39] فَعَامٌّ مَخْصُوصٌ بِذَلِكَ وَقِيلَ مَنْسُوخٌ بِهِ وَكَمَا يَنْتَفِعُ الْمَيِّتُ بِذَلِكَ يَنْتَفِعُ الْمُتَصَدِّقُ (وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْمُتَصَدِّقِ شَيْءٌ وَلِهَذَا يُسْتَحَبُّ) لَهُ (أَنْ يَجْعَلَ صَدَقَتَهُ) أَيْ يَنْوِيَ بِهَا (عَنْ أَبَوَيْهِ)

Keterangan : doa kepada mayit dari ahli warisnya atau orang lain bisa bermanfaat bagi mayit. begitu pula : wakaf, shodaqoh, pembangunan masjid, galian sumur dan sebagainya untuk mayit semuanya berlaku seperti halnya pahala yang pernah dilakukan sewaktu hidup. 

atas dasar ijma dan beberapa hadist shahih. salah satunya hadistnya : jika wafat ibnu adam maka terputus amalnya kecuali tiga hal 1) Shodaqoh Jariah, 2) Ilmu yang bermanfaat, 3) anak yang sholeh mendoakannya 

dan  Hadist  yang diriwayatkan oleh Saad bin Ubadah bertanya : ya Rasul Allah Sesungguhnya ibu ku telah wafat. aku ingin bersedekah untuknya. Rasul Allah menjawab : iya. Saab bertanya : Sedekah apa yang palin utama. Rasul Allah menjawab : memberikan air. riwayat Muslim dan lainnya.  

Allah berfirman : dan Mereka (beriman) datang setelah mereka (yang beriman terdahulu) dan berdoa Ya Tuhan kami ampunilah kami dan Saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan (surat al hasyr ayat 10). 

Allah memuji doa mereka kepada orang-orang terdahulunya. ada pula Firman Allah : Benar-benar tiada yang diperoleh manusia kecuali apa yang ia usahakan (An-najm ayat 39). ada dalil Am yang di-makhshush (ditakwil). ada pendapat itu adalah mansukh (ralat hukum). 

seperti  manfaatnya pada mayit adalah sedekah untuk mayit. dan tidak dikurangi sedikit pun pahala sedekah untuk mayit bagi yang melaksanakannya. atas dasar dalil ini, disunahkan niat sedekah untuk kedua orang tua.

dalam kitab Asna Mathalib Syarah Raudhat Thalib halaman 60 jilid 3 ;

(وَفِي جَوَازِ التَّضْحِيَةِ عَنْ الْغَيْرِ)
 بِغَيْرِ إذْنِهِ (وَجْهَانِ) : أَصَحُّهُمَا الْمَنْعُ وَبِهِ جَزَمَ الْمِنْهَاجُ كَأَصْلِهِ وَعِبَارَتِهِ وَلَا ‌تَضْحِيَةَ ‌عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ وَلَا عَنْ مَيِّتٍ إنْ لَمْ يُوصِ بِهَا عَلَى الْأَصْلِ فِي الْعِبَادَاتِ. وَثَانِيهِمَا الْجَوَازُ لِخَبَرِ مُسْلِمٍ «أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم ضَحَّى عَنْ أَزْوَاجِهِ بِالْبَقَرِ»

وَخَبَرُ أَحْمَدَ «أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم كَانَ إذَا ضَحَّى اشْتَرَى كَبْشَيْنِ سَمِينَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ فَإِذَا صَلَّى وَخَطَبَ النَّاسَ أَتَى بِأَحَدِهِمَا وَهُوَ قَائِمٌ فِي مُصَلَّاهُ فَذَبَحَهُ بِنَفْسِهِ بِالْمُدْيَةِ ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ أُمَّتِي جَمِيعًا مَنْ شَهِدَ لَكَ بِالتَّوْحِيدِ وَشَهِدَ لِي بِالْبَلَاغِ ثُمَّ يُؤْتَى بِالْآخَرِ فَيَذْبَحُهُ بِنَفْسِهِ وَيَقُولُ: هَذَا عَنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ فَيُطْعِمُهُمَا جَمِيعًا الْمَسَاكِينَ وَيَأْكُلُ هُوَ وَأَهْلُهُ مِنْهُمَا» ، وَلِلْأَوَّلِ أَنْ يَجْعَلَ ذَلِكَ مُسْتَثْنًى إذْ لِلْإِمَامِ الْأَعْظَمِ أَحْكَامٌ تَخُصُّهُ

artinya : dalam masalah boleh berkurban untuk orang lain tanpa izin, terdapat dua pendapat; pendapat paling shoheh melarangnya (tidak sah, tidak boleh). Imam Nawawi dalam kitab Minhaj berkeyakinan dengan pendapat 
pertama seperti aslinya ; teksnya tiada sah berkurban untuk orang tanpa izinnya dan tidak untuk mayit jika si mayit tidak ada wasiat begitu atas dasar ibadah-ibadah lainnya. pendapat kedua menyatakan boleh karena ada hadist riwayat muslim : benar-benar Nabi Muhammad saw berkurban sapi untuk istri-istrinya. dan berdasarkan Hadist riwayat Imam Ahmad bahwa Rasulullah Saw ketika kurban, membeli dua domba yang gemuk, bagus dan sehat lalu setelah melaksanakan sholat id dan berkutbah pada masyarakat. Nabi Muhammad Saw datang membawa salah satu dombanya. beliau berdiri dekat tempat sholat lalu menyembelihnya sendiri dengan belati kemudian berdoa Ya Allah ini hewan kurban untuk seluruh umat ku; orang yang bersaksi ke-Esa-an Engkau dan Bersaksi pada ku akan wahyu yang disampaikan. kemudian Nabi membawa domba lainnya. menyembelihnya sendiri. beliau berkata : ini untuk Muhammad dan Keluarganya, maka berikanlah kedua daging domba itu pada fakir miskin. dan Nabi memakan dan keluarganya memakan sebagian kecil dari daging itu.  

            Dalam Kitab Raudhatul Mathalib wa Umdatul Muttaqin halaman 202 jilid 6 :

وَاعْلَمْ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ إِذَا صَدَرَتْ مِنَ الْحَيِّ، فَهِيَ صَدَقَاتٌ جَارِيَةٌ، يَلْحَقُهُ ثَوَابُهَا بَعْدَ الْمَوْتِ كَمَا صَحَّ فِي الْحَدِيثِ، وَإِذَا فَعَلَ غَيْرُهُ عَنْهُ بَعْدَ مَوْتِهِ، فَقَدْ تَصَدَّقَ عَنْهُ.
وَالصَّدَقَةُ عَنِ الْمَيِّتِ تَنْفَعُهُ، وَلَا يَخْتَصُّ الْحُكْمُ بِوَقْفِ الْمُصْحَفِ، بَلْ يَجْرِي فِي كُلِّ وَقْفٍ.
وَهَذَا الْقِيَاسُ يَقْتَضِي جَوَازَ ‌التَّضْحِيَةِ ‌عَنِ ‌الْمَيِّتِ؛ لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنَ الصَّدَقَةِ.
وَقَدْ أَطْلَقَ أَبُو الْحَسَنِ الْعَبَّادِيُّ جَوَازَ التَّضْحِيَةِ عَنِ الْغَيْرِ، وَرَوَى فِيهِ حَدِيثًا.
لَكِنْ فِي «التَّهْذِيبِ» أَنَّهُ لَا تَجُوزُ التَّضْحِيَةُ عَنِ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ، وَكَذَلِكَ [عَنِ] الْمَيِّتِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ أَوْصَى بِهِ

artinya : Ketahuilah benar-benar semua perkara ini jika dilakukan orang hidup maka disebut sedekah jariah yang pahala terus mengalir setelah kematian menjemput. seperti keterangan hadist sahih. jika orang lain melakukan untuk orang yang telah meninggal dunia, maka disebut sedekah untuk si mayit. 
dan sedekah untuk mayit bermanfaat. dan tidak terkhusus pada wakaf mushhaf  al Qur'an tetapi berlaku pada semua bentuk wakaf. Dan Kias ini dipakai untuk memperbolehkan kurban untuk orang yang telah wafat karena kurban itu bagian dari perilaku sedekah. Imam Abu Al Hasan Al Abady menyatakan mutlak boleh berkurban untuk orang lain. dan sesuai hadist yang diriwayatkan. walaupun dalam kitab tahjib tetap bersikukuh tidak memperbolehkan berkurban untuk orang lain tanpa izin. begitupula tidak boleh untuk mayit kecuali ada wasiat demikian.

Dalam kitab al Majmu' Syarah Muhazab halaman 408 jilid 8 :

واحتج العبادي وغيره في ‌التضحية ‌عن ‌الميت بحديث علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه كان (يضحي بكبشين عن النبي صلى الله عليه وسلم وبكبشين عن نفسه وقال أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمرني أن أضحي عنه أبدا فأنا أضحي عنه أبدا) رواه أبو داود والترمذي والبيهقي قال البيهقي إن ثبت هذا كان فيه دلالة على صحة ‌التضحية ‌عن ‌الميت والله أعلم

   artinya : Imam Al Abady dan lainnya berhujah dalam (boleh) berkurban untuk mayit dengan hadist Sahabat Ali Bin Abi Thalib Ra. Bahwa beliau berkurban dua domba untuk Nabi Muhammad Saw dan dua domba untuk dirinya. dan berkata benar-benar Rasulullah Saw. memerintahkan ku untuk berkurban untuk-nya selamanya lalu aku berkurban untuk-nya selamanya. Riwayat Abu Daud, Turmuzi, Baihaqi. berkata jika ketetapan ini yang keberadaannya memuat dalil keabsahan berkurban untuk orang yang telah wafat. Allah Yang Maha Mengetahui.

Dalam Kitab Fatawi Al Kubra Ibnu Taymiyah halaman 150 jilid 5 :

[فصل ‌التضحية ‌عن ‌الميت]
(1056 - 32) فصل: وتجوز ‌التضحية ‌عن ‌الميت كما يجوز الحج عنه والصدقة عنه 

Artinya : Dan diperbolehkan berkurban untuk orang yang telah tiada seperti boleh haji untuk mayit dan boleh sedekah untuk mayit

Dalam Kitab Mughnil Muhtaj halaman 138 jilid 6 :

وَقَدَّمْنَا أَنَّهُ إذَا ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ يَجِبُ عَلَيْهِ التَّصَدُّقُ بِجَمِيعِهَا، وَقِيلَ تَصِحُّ ‌التَّضْحِيَةُ ‌عَنْ ‌الْمَيِّتِ وَإِنْ لَمْ يُوصِ بِهَا؛ لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ، وَهِيَ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُهُ

artinya : Kita sudah membahas jika berkurban untuk orang lain, maka wajib mensedekahkan seluruh daging kurban . ada pendapat yang menyatakan Sah berkurban untuk orang yang tealh wafat walaupun tidak ada wasiat karena Kurban bagian dari sedekah. sedangkan sedekah sah untuk mayit dan bermanfaat untuk mayit. 

Dalam Kitab Nihayatul Muhtaj halaman 144 jilid 6 :

قَالَ الْقَفَّالُ: وَمَتَى جَوَّزْنَا ‌التَّضْحِيَةَ ‌عَنْ ‌الْمَيِّتِ لَا يَجُوزُ الْأَكْلُ مِنْهَا لِأَحَدٍ بَلْ يَتَصَدَّقُ بِجَمِيعِهَا لِأَنَّ الْأُضْحِيَّةَ وَقَعَتْ عَنْهُ فَتَوَقَّفَ جَوَازُ الْأَكْلِ عَلَى إذْنِهِ وَقَدْ تَعَذَّرَ فَوَجَبَ التَّصَدُّقُ بِهَا عَنْهُ

Artinya : Imam Al Qofal Berkata jika kita memperbolehkan berkurban untuk mayit, maka siapaun (ahli waris atau panitia kurban) tidak boleh memakannya tetapi semua dagingnya harus disedekahkan karena hewan kurban telah ditetapkan untuk si mayit. lalu pembolehan mengkonsumsinya harus izin si mayit. dan pasti sulit. maka wajib disedekahkan untuk si mayit.

Dalam Kitab Fathul Wahab halaman 232 jilid 2 :

" وَإِنْ وَكَّلَ بِذَبْحٍ كَفَتْ نِيَّتُهُ " فَلَا حَاجَةَ لِنِيَّةِ الْوَكِيلِ بَلْ لَوْ لَمْ يَعْلَمْ أَنَّهُ مُضَحٍّ لَمْ يَضُرَّ " وَلَهُ تَفْوِيضُهَا لِمُسْلِمٍ مُمَيِّزٍ " وَكِيلٍ أَوْ غَيْرِهِ

Artinya : Jika mewakilkan dalam penyembelihan, maka sudah cukup niatnya orang yang berkurban. maka tidak perlu niat lagi bagi si wakil. bahkan seandainya wakil penyembelih tidak menegatahui siapa yang berkurban, maka tidaklah masalah (tetap sah). bagi orang berkurban harus menyerahkan hewan kurbannya kepada orang islam taat dan tamyiz sebagai wakil penyembelih atau lainnya (panitia kurban).

Dalam kitab Fathul Wahhab halaman 233 jilid 2 :

وَيَجِبُ تَصَدُّقٌ بِلَحْمٍ مِنْهَا " وَهُوَ مَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ الِاسْمُ مِنْهُ لِظَاهِرِ قَوْله تَعَالَى: {وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ} ١ أَيْ الشَّدِيدَ الْفَقْرِ وَيَكْفِي تَمْلِيكُهُ لِمِسْكِينٍ وَاحِدٍ 

Wajib mensedekahkan dagingnya. Sedangkan apa yang disebut penamaan secara dzahir atas Firman Allah: Berikanlah pada orang yang sangat miskin. dan Cukuplah memberikan daging kurban sebagai hak miliknya pada satu orang miskin.

               

Tidak ada komentar: